Senin, 26 Januari 2015

Syatibi

Hujan kembali mengguyur kota makassar, saat roda kendara kembali mengantarkan kami pulang. Hanya ada diam, hanya ada hening, hanya ada beku. Sempurna sudah kalian menyisakan perih. Perih karena tak ada lagi binar bola mata yang menyejukkan qalbu, perih karena tak ada lagi yang selalu membuat kita ingin kembali pulang, demi bertemu dengannya, yang membuat rumah bak syurga dunia dengan kehadirannya. Pangeran kecil penawar segala amarah, pangeran kecil yang bukanlah hanya sekedar belahan jiwa ummi dan abinya, namun juga belahan jiwa ummi, aba, umar, mama ani, kakak ana dan orang-orang yang telah kau buat jatuh hati nak. 

Tibi nak, masih terlalu lekat dalam putaran kebersamaan kita yang terlalu singkat, saat kau menyebutkan kata pertamamu, atau saat kau mendekapku saat air menyentuhmu, atau..
Saat kau dengan gagah berani menunjukkan langkah pertamamu pada seisi rumah..
Juga saat menunggumu terlelap, itu semua adalah saat-saat yang terlalu berharga.
Dan mungkin akan terlalu banyak "atau" jika semua kenanangan itu dapat tergambar..

Syatibi..
Andai kau tahu nak, ada sebuah hal yang dikejar-kejar banyak orang, di perebutkan bahkan ada yang tak dapat memilikinya..  
Ialah cinta..
Banyak orang yang hanya mampu melafadzakannya sementara ia tak dapat merasakannya..
Tapi kau, seolah dapat menghadirkannya kapanpun kau mau, dimanapun kau ingin, juga di hati manapun.

Tibiku sayang.. Hari ini, kau pergi.. 
Pergi meninggalkan orang-orang yang terlalu amat menyayangimu, Pergi meninggalkan kami yang telah jatuh dalam cintamu, kau tahu nak, ini bukanlah sebuah putaran film yang setiap saat dapat terulang.
Keberadaanmu di tengah-tengah kami adalah kebahagiaan terbesar yang kami miliki saat itu, namun kini, entah kapan Allah menakdirkan kami merasakannya kembali, entah kapan aku dapat memandangi senyummu yang memanah setiap bagian hatiku, entah kapan kami akan mendengar suaramu lagi di setiap subuh, dan entah kapan kami akan berjumpa dengan wajah teduh milikmu nak.

Tibiku, sekali lagi nak, baik-baik disana, kami akan selalu merindu pada senyummu, marahmu, bahagiamu, dan setiap detik kebersamaan kita

Dengan segenap cinta sayang kami ( aba, ummi, umar, kakak ana, mama ani, kakak syifa ) dan rasa yang tak menentu.
Uhibbuka fillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar