Selasa, 08 Mei 2018

Suatu Episode yang Berakhir.

Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku mencatat tanggal kepulangan.
Yang aku ingat, adalah kau tak akan pergi jauh lagi, begitu katamu.
Inikah hari yang selalu kita nanti? Tak ada tanggal yang dilingkari untuk kebersamaanmu denganku, tak ada koper yang dibiarkan tegak disudut kamar, untuk hanya soal waktu rodanya akan menggelinding lagi bersama langkahmu, tak ada air mata yang tertahan untuk saling melepas pergi.

Betapa aku selalu ingat setiap detik hari hari itu, untuk menelponmu berjam jam hanya untuk mendengarku menangis,  juga terkadang hanya untuk diam, cukup mendengar suaramu, sampai aku terbangun kemudian tersadar bahwa panggilan sudah diakhiri sebab kuota tidak mencukupi.

Kau ingat? Aku pernah cemburu karena kau menyiapkan minuman buka puasa bersama temanmu, sedangkan aku tak pernah memasak untuk sajian buka puasamu.

Hari ini, kita bisa mengukir senyum untuk hari-hari itu, juga bahkan menertawakan diri kita untuk banyak kekonyolan yang berlalu,  yah apalagi kalau bukan kekonyolan namanya, saat suatu waktu aku ngambek tapi menelponmu karena rindu, aku bilang setelah berbicara beberapa menit aku akan kembali ngambek, dan yang lebih konyolnya lagi adalah kau mengiyakannya.

Abi, begitu farhaanah menyebutmu.
Terimakasih untuk 3 tahun ini, bukan untuk banyak kelebihan, tapi untuk setiap kekurangan yang dengannya aku belajar menjadi lebih baik. Tidak egois dan menjadi sedikit lebih penyabar.
Terimakasih untuk selalu setia mendengarkan.
Terimakasih untuk sekedar tertawa dengan ceritaku yang kebanyakannya tak penting itu. Terimakasih untuk selalu tepat waktu menjemputku.
Dan Terimakasih untuk mencintaiku dengan caramu.

23.30 dalam perjalanan pulang bersamamu..

Abi, kalau ada suatu kondisi yang mengharuskan kita LDR lagi, kakak bisa kan? Tanyaku.
"Ga" jawabmu singkat.
"Kenapa? Apa alasannya?"
"Ga ada alasannya"
"Kok ga ada?, pasti ada dong"
"Alasan terkuat adalah justru saat kita ga lagi punya alasan"

Dan juga terimakasih untuk jawaban itu, yang akan selalu kusimpan dalam suatu tempat dihatiku bernama "Janji".


-Reyhana Muhammad Ikhwan, tukang ngambek dalam hidupmu, yang selalu mencintaimu.-







Sabtu, 15 Juli 2017

Pernyataan Hati

Menyakitkan memang, saat kita telah berlari pergi begitu jauh..
Bahkan sangat jauh..

Menghapus kenangan yang tak ingin lagi kita ingat...

Menahan air mata dengan senyuman.

Berjanji untuk melupakan..

Namun pada akhirnya, kita sampai pada sebuah kenyataan bahwa kita.. tidak bisa.
Tidak bisa menghapus kenangan yang bahkan tak ingin pergi dari ingatan.
Tidak bisa berpura-pura tersenyum hanya untuk menyamarkan tangis.
Tidak bisa berhenti mencintai.

Di titik itulah terkadang kita merasa menjadi orang paling membingungkan.
Bagaimana mungkin, dia yang telah menggores luka dengan sangat dalam, mampu menjadi rindu yang membasuh setiap luka.



Minggu, 09 Juli 2017

Tanda Tanya Untukmu

Bukankah dulu kau bilang, bahwa cintamu itu karena Allah.
Namun mengapa, kini saat ujian itu datang, kau tak melibatkan Allah?

Bukankah dulu kau yakin, bahwa rasa sayang dihatimu adalah karena Allah.
Namun mengapa, kini saat kau merasa tak mampu untuk bertahan, kau malah sibuk mengandalkan diri sendiri, menangis dan bertanya kemana kau harus berlari.

Jika benar cinta itu karena Allah, mungkin kau harus mencari dirimu terlebih dahulu dalam keheningan malam. Apakah ada kau disana? Dalam sujud panjangmu, meminta dan berharap.

Jika benar cinta itu karena Allah, mungkin kau harus lebih banyak bertanya pada hatimu, benarkah cinta itu karena Allah?

Senin, 05 Juni 2017

Yang dijawab Waktu

Berbahagialah, karena kau masih bisa menanti.
Berbahagialah, karena masih ada yang kau nanti.

Dan menengoklah sejenak, pada jiwa-jiwa di sebrang sana. Yang tak lagi tahu apakah esok dia masih akan membuka mata.

Penantian yang berujung berita bahwa lelakinya tak lagi akan pulang.

Bersyukurlah, harapmu masih terwujud, untuk melihat tendangan bayi mungil di rahimmu.

Sewaktu dengan itu, di sebrang sana, jauh sekali. Ada seorang ibu yang bahkan tak pernah dapat melihat bayinya. Berlari kesana kemari mencari tempat persembunyian, dengan setitik harapan bahwa esok dia masih akan merasakan detak jantungnya...



Minggu, 04 Juni 2017

Yang ditanyakan Hatiku

Yah, saya tidak pergi kemana-mana.
Saya disini, selalu disini, dan menetap disini.

Menunggunya pulang, menyambutnya saat datang, dan bersedih saat dia meninggalkan.

2 tahun, dan itulah yang bisa saya lakukan, menunggu dan terus menunggu.

2 tahun kami adalah perpisahan yang tidak pernah kami tau kapan pertemuannya kembali datang.

Tidak ada kata romantis semanis caption "Hamil berdua", "Bapak Asi", "Pakmil" dsb.

Tidak ada.

Saat mengandung, saya duduk bersama ummi, juga terkadang sendiri,  dibangku ruang tunggu Rsb untuk konsul bulanan. Menatap sekitar dengan hati penuh sesak.

Kanan : Kak, kata dokter usianya baru 8 minggu, sdh ad detak jantungnya.

Kiri : In syaa Allah Hplnya bulan depan sayang.

Depan : Maa syaa Allah, gmn hasilnya dek?

Para suami dan istri yang begitu bahagia menyambut kehadiran buah hatinya.

Saya menyaksikan kebahagiaan itu setiap bulan saat konsul, kadang saya tersenyum, juga kadang menunduk menteskan air mata yang tertahan pada senyuman itu.

Sesekali, ingin rasanya dia mengelus perut saya dengan tatapan penuh bahagia, bangga, dan haru.
Sesekali, ingin rasanya dia duduk di sebelah saya, menawarkan saya minum untuk sekedar berkata : "Biar air ketubannya banyak."

1 hal yang selalu di tanyakan hatiku, kenapa kamu memilih untuk meninggalkan kami?

Kamis, 02 Maret 2017

2 Years With You

Hari ini, tepat 2 tahun berlalu.
Bukan, bukan umurku. Tapi, pernikahan kita.

Kita masihlah sama, kata-kata yang terurai mungkin akan sama seperti tahun lalu. Jarak, rindu, pertemuan, dan perpisahan.
Itulah 2 tahun kita.
2 tahun yang terasa sangat lama.

Tak banyak yang berubah, yang berubah hanyalah hati kita. Yah hati kita, yang belajar menerima kenyataan bahwa rindu tidak selamanya dengan tangis terisak. Bahwa cinta tidak selamanya tentang ungkapan "i love you".

Ada kata yang tak dapat terlafadz, tersimpan rapih dalam bilik bilik harapan. Melangit seiring dengan langkah kita di pagi hari.

Ada rasa yang tak harus tertuang dalam kesedihan, melainkan dengan senyuman yang selalu percaya bahwa semua ini akan berlalu.

Ada sikap yang tak selamanya harus gundah, melainkan dengan kedewasaan yang terus menggantungkan segalanya pada Rabb yang maha kuasa atas segala takdir yang telah ditetapkanNya.

2 tahun yang artinya, perjalanan kita masihlah panjang, akan ada lebih banyak hiruk pikuk permasalahan, dilema dan ujian yang menanti di depan sana.

Kita sama-sama yaa bi, sama-sama belajar untuk saling memahami. Sama-sama belajar bersikap lebih dewasa lagi. Sama-sama berjuang untuk jadi Ummi dan Abi yang terbaik untuk Farhaanah 'Abidaturrahman. Dan juga, sama-sama terus menjadi lebih baik.

Sabtu, 03 Desember 2016

Hujan

Ia bukan hanya tentang datang dan pergi,
Memulai dan menghilang,
Ada lalu terhenti.

Lebih dari semua itu, hujan adalah rahmat dari Sang pemberi, maka tak apa sekali-kali berguyurlah dibawah hujan, nikmatilah setiap ingatan tentang kenangan yang hampir saja terlupakan.

Jika tak ada geledek, sekali-kali tutuplah payungmu dan rasakan air hujan membasahi kedua tanganmu.😃

Daaan....
Tentang semua kesedihan yang kau rasakan, bertekadlah untuk melepaskan dan menggantinya dengan kebahagiaan.

Selamat menikmati hujan!🌂❄💕