Yah, saya tidak pergi kemana-mana.
Saya disini, selalu disini, dan menetap disini.
Menunggunya pulang, menyambutnya saat datang, dan bersedih saat dia meninggalkan.
2 tahun, dan itulah yang bisa saya lakukan, menunggu dan terus menunggu.
2 tahun kami adalah perpisahan yang tidak pernah kami tau kapan pertemuannya kembali datang.
Tidak ada kata romantis semanis caption "Hamil berdua", "Bapak Asi", "Pakmil" dsb.
Tidak ada.
Saat mengandung, saya duduk bersama ummi, juga terkadang sendiri, dibangku ruang tunggu Rsb untuk konsul bulanan. Menatap sekitar dengan hati penuh sesak.
Kanan : Kak, kata dokter usianya baru 8 minggu, sdh ad detak jantungnya.
Kiri : In syaa Allah Hplnya bulan depan sayang.
Depan : Maa syaa Allah, gmn hasilnya dek?
Para suami dan istri yang begitu bahagia menyambut kehadiran buah hatinya.
Saya menyaksikan kebahagiaan itu setiap bulan saat konsul, kadang saya tersenyum, juga kadang menunduk menteskan air mata yang tertahan pada senyuman itu.
Sesekali, ingin rasanya dia mengelus perut saya dengan tatapan penuh bahagia, bangga, dan haru.
Sesekali, ingin rasanya dia duduk di sebelah saya, menawarkan saya minum untuk sekedar berkata : "Biar air ketubannya banyak."
1 hal yang selalu di tanyakan hatiku, kenapa kamu memilih untuk meninggalkan kami?
Saya disini, selalu disini, dan menetap disini.
Menunggunya pulang, menyambutnya saat datang, dan bersedih saat dia meninggalkan.
2 tahun, dan itulah yang bisa saya lakukan, menunggu dan terus menunggu.
2 tahun kami adalah perpisahan yang tidak pernah kami tau kapan pertemuannya kembali datang.
Tidak ada kata romantis semanis caption "Hamil berdua", "Bapak Asi", "Pakmil" dsb.
Tidak ada.
Saat mengandung, saya duduk bersama ummi, juga terkadang sendiri, dibangku ruang tunggu Rsb untuk konsul bulanan. Menatap sekitar dengan hati penuh sesak.
Kanan : Kak, kata dokter usianya baru 8 minggu, sdh ad detak jantungnya.
Kiri : In syaa Allah Hplnya bulan depan sayang.
Depan : Maa syaa Allah, gmn hasilnya dek?
Para suami dan istri yang begitu bahagia menyambut kehadiran buah hatinya.
Saya menyaksikan kebahagiaan itu setiap bulan saat konsul, kadang saya tersenyum, juga kadang menunduk menteskan air mata yang tertahan pada senyuman itu.
Sesekali, ingin rasanya dia mengelus perut saya dengan tatapan penuh bahagia, bangga, dan haru.
Sesekali, ingin rasanya dia duduk di sebelah saya, menawarkan saya minum untuk sekedar berkata : "Biar air ketubannya banyak."
1 hal yang selalu di tanyakan hatiku, kenapa kamu memilih untuk meninggalkan kami?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar