Jumat, 26 Juni 2015

Aku atau Saya?

Hari berganti, menyusul setiap detik yang telah lama mendahului kami...
terlalu banyak cerita yang harus direkam dalam benakku, bercerita? mungkin saya tak pandai bercerita, jadi,  nikmati saja alur yang tak beraturan ini (peace :p ).

Entah dari mana saya harus memulai, tapi, hmm, kita mulai saja, mau tidak mau juga harus tetap di mulai. Hmmm, okkey...

Seketika ingatan samar terbayang dalam benakku, mencoba mengingat-ingat kembali, ini memang pernah terjadi atau hanya mimpi beberapa hari yang lalu? (bisa diakui seisi rumah saya memang sedikit pelupa, atau.. banyak pelupa, hah?  bahasa apa itu??. ah entahlah ) biarkan saya bermain dengan kosa kata bahasa indonesia, meski saya akui bahasa makassar memang lebih beragam.

Kembali..

Yah.. 1 minggu bertanya-tanya tentang ingatan itu, ternyata dia hanyalah sebuah kenangan penghias masa kecil, masa "sekolah dasar" yang sedikit banyak orang mungkin pernah mengalaminya, tentu itu adalah masa yang berwarna, penuh cerita dan riang tawa khas anak SD. Berbeda dengan kakak saya Aisyah dengan masa SD yang kelam dan memiliki dampak bullying cukup besar bagi kehidupannya, (sekarang tidak lagi;) namun tetap mencintai sekolah dan selalu mendapat peringkat utama dikelasnya. Mungkin saya berbanding terbalik dari itu.
Sedari awal menyetujui di masukkan ke sekolah, saya hanya menganggap itu ajang uji coba, dan mengira sekolah hanya sebuah rutinitas biasa dengan guru-guru yang mengasyikkan, dengan ruang kelas berhamparkan rerumputan hijau dan bunga-bunga yang bermekaran serta langit sejauh mata memandang, kurang lebih itulah banyangan saya tentang sekolah ( tak apa kan? anak kecil juga berhak bahagia dengan imajinasinya). Tapi itu bukan imajinasi, itu benar-benar adalah banyangan saya tentang sekolah. Hari pertama masuk sekolah itu benar-benar jauh dari harapan, guru-guru berlalu lalang tanpa sedikitpun menyapa senyuman lugu khas anak kecil, memegang pulpen dengan lembaran-lembaran nilai dengan angka 1 2 3 dan seterusnya. Kupikir itu adalah angka-angka  yang akan dimainkan para guru saat kelas dimulai. 
Abaikan.. 
Tetiba seorang guru menepuk pundakku, menyebut namanya dan memberiku sekilas senyum di wajahnya, mengajakku memasuki ruangan yang dipenuhi kursi kayu dengan sebuah meja tepat di hadapanku, papan tulis terlihat rapih disisi dinding, nah! ini kelas baru kita, guru itu membuyarkan lamunan  yang terlihat kecewa. Hah?! inikah sekolah itu?!...*toeng toeng

Detik berlalu, dan perlahan akupun mulai menerimanya, seperti kata ummi, tak  semua hal sama dengan harapan kita, walau masih berpikir keras menerjemahkan kalimat itu, sedikit banyak aku memahami maknanya. Meski tak lagi pernah tau apa tujuanku melakukan rutinitas ini yang bisa dikatakan monoton, tapiii... satu yang kumengerti, jalani...

Masalah Pertama di Sekolah
Kejadian itu bermula saat seorang anak menghina aba dengan kata-kata yang tidak sopan, aku hanya diam, berusaha menenangkan pikiranku dengan banyangan sudah menggunduli seluruh rambutnya!, bertepatan dengan seorang guru perempuan yang terlihat acuh membuang sebuah popok bayi yang "euuuu" di tong sampah, aku mulai tertarik dengan popok itu, (hmmm,, tersenyum dalam hati). Sedetik berjalan menuju tong sampah, aku membatalkan niat itu, dan terus berjalan meninggalkan dia yang masih sibuk dengan keratan sepatunya, namun kembali dengan suara lirih mengulang kalimatnya tadi yang hampir saja membuatku menggunduli rambutnya, tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil popok yang berisi(tak perlu dijelaskan) dengan cekatan, sedetik.. popok serta isinya 
membaluri seluruh kepalanya, meleleh menuju wajah dan seluruh tubuhnya. Puas? sangat, menyesal?  
juga sangat, tapi setidaknya itulah yang bisa di pertaruhkan seorang anak kecil saat Ayah yang  begitu
ia dambakan di hina, saat laki-laki kebanggaannya di sebut dengan kalimat yang kotor. 
Sekolah oh sekolah.

Masalah Kedua
Tak sedikitpun niat melampiaskan ketidak sukaan ku pada tempat ini, tapi entah kenapa, mereka sangat gemar mengusik kehidupan indahku, mungkin karena saya datang dengan embel-embel anak seorang ketua umum ormas islam, yang sedikit bertentangan kebanyakan anak-anak di sekolah itu,(mungkin), tapi itupun baru aku pikirkan beberapa minggu lalu, sewaktu SD? hmm, tak sedikitpun pikiran itu mampir dalam benak seorang anak kecil.
Pagi itu dengan sedikit berat hati aku melaksakan sholat duha berjama'ah ditambah dengan imam sholat yang mengangkat suaranya.. Lagi-lagi, jalaniiiii.
Usai solat duha', seorang teman menghampirku, berbisik lirih di telingaku tentang apa yang  baru saja terjadi di kelas, hah?! apa?!  aliran darahku serasa mendidih, arrrrrrrggh! sewaktu SD sikapku sangat tenang diantara sekian banyak anak yang memilih  menghacurkan perabotan kelas, aku lebih suka menghabiskan bekal hasil masakan ummi yang tidak ada duanya. Tapi, ada tapinya, siapa saja yang mengusik ketenanganku, mungkin harus bersiap memasuki unit gawat darurat alias UGD (lebay).
Okkey..
Masalahnya adalah anak itu menyematkan setangkai mawar dan coklat di bawah mejaku dengan kata-kata bersediahkah kau menjadi pacarku? what??!! pacaran dan segala macam bentuknya tak pernah ada dalam kamus fikirku sedari aku dilahirkan di dunia ini. Masalah itu berakhir dengan tinju tepat di mata kanannya, yang juga mengasilkan anak itu tidak bersekolah selama 1 minggu, orangtuanya protes, aba dipanggil ke sekolah, dan selesai. Tapi, sejatinya mungkin masalah ini belum benar-benar selesai :p,  bisa kubilang itu dzalim ( jangan ditiru).


Masalah-masalah Lain
Banyak? sangat, tapi itu semua tetaplah sebuah kenangan, kenangan seorang anak kecil yang kini
menjelma menjadi seorang remaja..
Tepat diakhir ujian kenaikan kelas, aku memutuskan untuk keluar. karena?, karena sekolah tak lagi nyaman bagiku, atau mungkin memang tak pernah nyaman.
Daaaaaan...
Home sweet home.

Duniaku seakan baru saja  bebas dari sebuah penjara dengan secuil kebahagiaan, itulah sekolah dalam lembaran kenanganku.

Setelah akhirnya memutuskan untuk "home school" dengan belajar otodidak, bermodalkan 5 tahun mendekam di balik jeruji sekolah, maka sedikit banyak sekolah melahirkan manfaat bagi satu tahun yang tersisa untuk memulainya sendiri, tak ada papan tulis kaku, kursi dengan meja tepat di hadapannya, guru dengan lembaran nilai-nilai membosankan, dan beberapa teman yang gemar mengusik kehidupan orang lain. Juga tentunya, tak ada lagi yang harus menjadi korban $&@(?!-/... 

Hari terasa lebih sejuk, saat menghirup udara subuh dengan bebas tanpa ancaman hukuman karena terlambat masuk kelas, aah indahnya..
Aku masih ingat sepeda pertama yang aba hadiahkan adalah mainan favoritku setiap sore tiba, dan waktu itulah aku bebas berkelana dengan menatap langit, tak ada beban PR menghabiskan waktu berjam-jam menulis rangkuman buku Pkn, Bahasa Indonesia, Matematika, dll. Saat daya otakku tak lagi mampu, sementara wajah guru yang super duper galak juga tergambar jelas di buku-buku itu, sshhhp... (merinding) takut? tidak, hanya "ilfeel".


Tempat Paling Nyaman Sedunia                                                                                               
Ialah rumah, bagaimana tidak?, saat subuh menjadi bercahaya dengan lantunan indah bersama suara-suara merdu milik aba, kakak icha, kak habibi, dan kak aisyah.. (Maa syaa Allah) ditambah dengan aroma masakan ummi yang  membuat kami tak ingin berhenti menarik nafas, merasakan aroma wangi dari dapur, tidak salah jika rumah adalah syurga dunia.


5 Tahun Itu Tak Sepenuhnya
5 tahun sekolah dalam sejarah kehidupanku, bukanlah selamanya 5 tahun, tapi keluar, dan masuk kembali beberapa kali kesekolah yang sama, kenapa? tenang, bukan karena melukai anak orang, tapii, sewaktu SD, bisa dibilang kondisi fisik saya sedikit lemah, bisa terhitung dalam 1 tahun sekitar 2-3 kali keluar masuk rumah sakit, di tambah denga rawat inap yang menghabiskan waktu 1 minggu, saya bisa mengingat, hari-hari itu adalah hari-hari yang sangat melelahkan. Bersama jarum suntik yang telah menjadi kawan akrab sedari kecil, syukur lah Allah memberi saya ummi dan aba, saudara-saudari yang cinta dan kasih sayangnya tak pernah lekang di landa waktu, (trims all) saya akan selalu mengingat itu. 

Asrama
Suasana asrama dengan segala macam jadwal dan peraturannya menjadi rutinitas saya sebelum memasuki bangku SD, entah kenapa, asrama dengan segala macam suka dukanya selalu menjadi lebih indah, karena sesulit apapun mengatasi rasa rindu pada ummi dan aba, selalu ada rangkulan ukhuwah milik kakak-kakak senior yang selalu sabar menghadapi segala macam tingkah saya.Lebih dari itu semua, tujuanlah yang menyatukan kami disana. Yah, kitabullah, kalam milik tuhan semesta alam.

MTA
Markaz tahfidhul qur'an al aqsha yang dibentuk aba dan ummi 3 tahun yang lalu dengan tenaga pengajar yang pas-pasan saat itu, menjadi salah satu tempat pengembangan diri yang luar biasa bagi saya, waktu itu, kalau tidak salah umur saya sekitar 13 tahun, saya diminta aba dan ummi serta dukungan kakak-kakak untuk turut mengambil peran disana, di rumah kecil dengan santri sekitar 30 orang. Awalnya hanya bersembunyi di balik kerudung kak aisyah saat mengajar, dengan pandai dan sabar kak aisyah menuntut setiap murid agar bisa menyebut huruf hijaiyah satu persatu. 
Berlalulah hari, dan akhirnya seluruh murid terbagi menjadi 3 kelas, kelas SD, kelas SMP, dan kelas Iqro'. Saya di beri kepercayaan penuh dari aba dan ummi untuk mengajar di kelas iqro', 13 tahun menjadi masa pembelajaran awal untuk mengontrol emosi bagi saya, tidak semudah yang di bayangkan, mengajari anak-anak dengan tangis bersama liur dan ingus, itu jauh lebih sulit dibanding mengajari mama ani (nenek saya) al fathihah. Jatuh dari sepeda, berkelahi dengan teman yang lain, protes dari orangtua, menjadi lahapan sehari-sehari saya saat mengajar di MTA. 
Hufffft, ini melelahkan sekaligus menyenangkan.

Sekian Untuk Sementara
Berhubung jari jemari saya sudah pegal, dan jam di makassar menunjukkan pukul 03.05 dini hari, waktunya untuk sahur... bagi sese-orang yang meminta dengan paksa menuliskan cuplikan-cuplikan kehidupan saya yang sedikit tidak terlalu penting sebenarnya.. trims... 

*ditunggu udang goreng mayonaisenya di kayu agung 1 no 2

Kamis, 25 juni 2015
Reyhana Ikhwan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar