Pertemuan yang telah tertakdirkan, atau tawa serta haru yang berpijar menjadi sebuah alasan untukku, menjadikannya tak semudah menghapus papan tulis, atau tak seenteng meremukkan kertas.
Sungguh ini hanya tentang hamba Allah, tentang detik demi detik y di berikan dalam hidupnya..
Kini..
usianya barulah genap 14 tahun, saat kehidupan remaja masih tergambar jelas dalam kesehariannya, penuh mimpi dan angan, bertaburkan harapan serta ambisi untuk melakukan banyak hal..
Tak sedikit yang mengatakannya sok dewasa, atau kecepetan tua, bahkan keibuan, yah kalimat yang dengan izin Allah dapat menjadi doa yang mustajab hingga hari ini, ia masih saja berterimakasih atas doa-doa itu. kalimat pengharapan yang membuatnya ingin mencoba segala hal yang baru, yang bahkan gadis seusianya masih berkelut dengan bangku sekolah, ujian, mid semester atau apalah namanya. Lebih tepatnya ini adalah tentang saya, narsis? tidak juga..
Pagi itu langit begitu cerah, birunya begitu menyilaukan pandangan.. saat semua orang telah pergi dengan seragam sekolah masing-masing, saya masih saja terus mendongak menatap langit, memegang ransel dengan tumpukan buku-buku cetak di dalamnya, ahh.. sungguh ini sesuatu yang membingungkan. Entah kenapa, hanya seperti itu saja, merekatkan keratan sepatu, melihat mata pelajaran di roster yang telah di tempel, memasukkan buku-buku ke dalam tas, menunggu mobil jemputan dari sekolah, hanya seperti itu. langkahku hanya terus mengikuti alur tanpa berusaha membuat jalan baru. hmm, dalam hati saya bergumam, mungkin memang setiap anak-anak di haruskan seperti ini, anak yang tidak sekolah di bilang miskin, yang tidak mau sekolah, dibilang bodoh, yang gemilang dan selalu mendapat ranking utama di kelas di cap sebagai anak yang paling pintar, ranking 32 dari 32 murid dibilang murid paling bodoh dan malas!. matematika dapat 5 di tuduh tidak belajar, ipa dapat nilai tertinggi di katakan si cerdas. apakah sedari Allah menakdirkan kita terlahir di dunia ini itu semua hanya dinilai dengan angka 5,8, 4,3, 2,9?, apakah ada seorang ibu yang melahirkan bayinya lantas dia bertanya saya dapat nilai berapa dok? atau adakah orang yang sehat dari sakitnya lantas di katakan kau mendapat nilai 8 karena kau bisa bangkit dari sakitmu?. ahhhh! sungguh hal yang membuatku geram, kehidupan yang tolak ukurnya adalah nilai sempurna, kehidupan yang tujuannya adalah nominal angka yang di puja setiap orang, kehidupan yang terus berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan jika saja kau tak lulus ujian mid semester. bahkan ada yang mengakhirinya hidupnya oleh hal-hal itu, bagai selembar kertas berisi soal dan esai adalah pencabut nyawanya, mendapat peringkat terakhir di sekolah bagai seisi dunia adalah musuh yang harus ia perangi, bukankah pemahaman kita tentang ilmu adalah sejauh mana kita dapat mengamalkannya dengan baik untuk kehidupan orang-orang di sekitar kita?
Pagi itu langit begitu cerah, birunya begitu menyilaukan pandangan.. saat semua orang telah pergi dengan seragam sekolah masing-masing, saya masih saja terus mendongak menatap langit, memegang ransel dengan tumpukan buku-buku cetak di dalamnya, ahh.. sungguh ini sesuatu yang membingungkan. Entah kenapa, hanya seperti itu saja, merekatkan keratan sepatu, melihat mata pelajaran di roster yang telah di tempel, memasukkan buku-buku ke dalam tas, menunggu mobil jemputan dari sekolah, hanya seperti itu. langkahku hanya terus mengikuti alur tanpa berusaha membuat jalan baru. hmm, dalam hati saya bergumam, mungkin memang setiap anak-anak di haruskan seperti ini, anak yang tidak sekolah di bilang miskin, yang tidak mau sekolah, dibilang bodoh, yang gemilang dan selalu mendapat ranking utama di kelas di cap sebagai anak yang paling pintar, ranking 32 dari 32 murid dibilang murid paling bodoh dan malas!. matematika dapat 5 di tuduh tidak belajar, ipa dapat nilai tertinggi di katakan si cerdas. apakah sedari Allah menakdirkan kita terlahir di dunia ini itu semua hanya dinilai dengan angka 5,8, 4,3, 2,9?, apakah ada seorang ibu yang melahirkan bayinya lantas dia bertanya saya dapat nilai berapa dok? atau adakah orang yang sehat dari sakitnya lantas di katakan kau mendapat nilai 8 karena kau bisa bangkit dari sakitmu?. ahhhh! sungguh hal yang membuatku geram, kehidupan yang tolak ukurnya adalah nilai sempurna, kehidupan yang tujuannya adalah nominal angka yang di puja setiap orang, kehidupan yang terus berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan jika saja kau tak lulus ujian mid semester. bahkan ada yang mengakhirinya hidupnya oleh hal-hal itu, bagai selembar kertas berisi soal dan esai adalah pencabut nyawanya, mendapat peringkat terakhir di sekolah bagai seisi dunia adalah musuh yang harus ia perangi, bukankah pemahaman kita tentang ilmu adalah sejauh mana kita dapat mengamalkannya dengan baik untuk kehidupan orang-orang di sekitar kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar