Yaah.. Setelah hampir 4 bulan bersama (pertemuan terlama) 20 oktober 2016 kami berpisah lagi.
Tak ada yang spesial jika dibandingkan dengan LDR yang sebelum-sebelumnya, sama saja, selalu baper lihat barang-barangnya pak suami, apa saja yang saya lihat dan ada hubungannya dengan suami pasti bawaannya baper per per, sekalipun itu adalah pasta gigi😁. Bedanya LDR kali ini ada farhaanah yang batinnya telah begitu dekat dengan sang abi.
Saya pikir bayi berumur 6 bulan tidak bisa merasakan sebagaimana apa yang saya rasakan saat ditinggal, tapi ternyata saya salah, dia jauh lebih menyedihkan. Hampir sepekan dia kehilangan senyuman dan keceriaannya, kehilangan nafsu makan dan menyusu. Jujur, sebagai ibu itu jauh lebih amat menyakitkan bagi saya, kalau dulu saat ditinggal saya hanya bisa berbaring menghadap ke tembok sembari terus menyembunyikan tangis, hari ini ada dia yang menarik baju saya dari belakang, menatap saya dengan tatapan matanya yang berbinar berharap ingin di dekap.
Hari ini, saya belajar menahan air mata yang hampir saja menetes di pipi, demi farhaanah terus melihat saya tersenyum.
Saya rasa tak ada seorang ibu yang tak sedih ketika melihat buah hatinya terbangun menangis terisak ditengah malam, melihat ke pintu kamar berharap ada seseorang yang dia harapkan masuk, laki-laki yang begitu dekat dengan batinnya. Malam itu saya hanya memeluknya dan terus berdoa kepada Allah agar farhaanah kembali tertidur.
Dan Alhamdulillah, setelah hampir 1 pekan, dengan dukungan dari keluarga terus menghadirkan keramaian di hari-hari farhaanah, senyuman dan keceriaannya sedikit demi sedikit telah kembali, nafsu makan dan menyusunya juga semakin membaik.
Hari ini, perasaannyalah yang nomer 1 diantara kami, batinnya yang terus merasakan kehadiran kami sebagai orangtua lah yang harus terus kami jaga.
Farhaanahku.. Jangan sedih lagi yaa nak.. Abi disana, dihati farhaanah, selalu.😄
Hari berlalu, dan saya pun semakin paham bagaimana mengelola perasaan agar tidak terus menerus menggalau dan membaper(?) setiap hari.
Semakin mengerti bahwa LDR itu, ditinggalkan atau meninggalkan sama menyakitkannya, di Indonesia atau di Sudan sama menyesakkannya, menangis setiap hari telah jadi hal yang biasa.
Meski begitu, hidup harus tetap berlanjut, karena waktu tidak menunggu tangisan kita usai.
Setelah semua ini, saya mengerti dengan sangat baik bahwa sebaik-baiknya LDR menguatkan cinta, bersama itu jauh lebih baik, karena cita-cita menjadi keluarga sakinah dan bersama hingga syurga Allah itu, harus dengan ikhtiar untuk tetap bersama.
Tak ada yang spesial jika dibandingkan dengan LDR yang sebelum-sebelumnya, sama saja, selalu baper lihat barang-barangnya pak suami, apa saja yang saya lihat dan ada hubungannya dengan suami pasti bawaannya baper per per, sekalipun itu adalah pasta gigi😁. Bedanya LDR kali ini ada farhaanah yang batinnya telah begitu dekat dengan sang abi.
Saya pikir bayi berumur 6 bulan tidak bisa merasakan sebagaimana apa yang saya rasakan saat ditinggal, tapi ternyata saya salah, dia jauh lebih menyedihkan. Hampir sepekan dia kehilangan senyuman dan keceriaannya, kehilangan nafsu makan dan menyusu. Jujur, sebagai ibu itu jauh lebih amat menyakitkan bagi saya, kalau dulu saat ditinggal saya hanya bisa berbaring menghadap ke tembok sembari terus menyembunyikan tangis, hari ini ada dia yang menarik baju saya dari belakang, menatap saya dengan tatapan matanya yang berbinar berharap ingin di dekap.
Hari ini, saya belajar menahan air mata yang hampir saja menetes di pipi, demi farhaanah terus melihat saya tersenyum.
Saya rasa tak ada seorang ibu yang tak sedih ketika melihat buah hatinya terbangun menangis terisak ditengah malam, melihat ke pintu kamar berharap ada seseorang yang dia harapkan masuk, laki-laki yang begitu dekat dengan batinnya. Malam itu saya hanya memeluknya dan terus berdoa kepada Allah agar farhaanah kembali tertidur.
Dan Alhamdulillah, setelah hampir 1 pekan, dengan dukungan dari keluarga terus menghadirkan keramaian di hari-hari farhaanah, senyuman dan keceriaannya sedikit demi sedikit telah kembali, nafsu makan dan menyusunya juga semakin membaik.
Hari ini, perasaannyalah yang nomer 1 diantara kami, batinnya yang terus merasakan kehadiran kami sebagai orangtua lah yang harus terus kami jaga.
Farhaanahku.. Jangan sedih lagi yaa nak.. Abi disana, dihati farhaanah, selalu.😄
Hari berlalu, dan saya pun semakin paham bagaimana mengelola perasaan agar tidak terus menerus menggalau dan membaper(?) setiap hari.
Semakin mengerti bahwa LDR itu, ditinggalkan atau meninggalkan sama menyakitkannya, di Indonesia atau di Sudan sama menyesakkannya, menangis setiap hari telah jadi hal yang biasa.
Meski begitu, hidup harus tetap berlanjut, karena waktu tidak menunggu tangisan kita usai.
Setelah semua ini, saya mengerti dengan sangat baik bahwa sebaik-baiknya LDR menguatkan cinta, bersama itu jauh lebih baik, karena cita-cita menjadi keluarga sakinah dan bersama hingga syurga Allah itu, harus dengan ikhtiar untuk tetap bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar